Selasa, 16 Maret 2021

SINGKAT TAPI BERMAKNAH

 


By : Muliadin Iwan (Mr.Mul)

 

 “kita berjodoh Bukan karena lamanya bertemu, tetapi karena berjodolah maka kita dipertemuan.”

 

Nampaknya kalimat di atas menjadi kalimat yang tepat untuk menggambarkan bagaimana pertemuan saya dengan Dewi yang singkat tapi bermaknah. Masih teringat betul saat moment pertama saya berjumpa Dewi. Walau tak ingat dengan pasti tanggalnya, tapi yang pasti waktu itu pertengahan Bulan Agustus 2020. Kala itu Dewi datang sebagai guru baru yang akan menggantikan Miss Ineu untuk mengajar Pelajaran Geografi karena Miss Ineu hendak resign karena harus mengikut calon suaminya ke Jawa Timur.

 

Meski sudah berjumpa dengan Dewi sejak pertengahan Agustus sejujurnya waktu itu belum ada perasaan suka sama sekali, melainkan hanya rasa penasaran semata. Ya biasalah kalau kita berjumpa orang baru pasti selalu punya rasa ingin tahu satu sama lain. Tapi karena karakter saya yang cenderung sangat pemalu terhadap perempuan, sehingga saya lebih pasif ketika berhadapan dengan perempuan. Jangankan untuk bertanya, bahkan untuk menyapa Dewi pun saya sangat malu. Bahkan dalam beberapa kesempatan saya sempat memutar haluan dan mencari alternatif jalan lain ketika melihat Dewi akan melintas di jalan yang sama. Sungguh sebuah tindakan yang sangat aneh dan kaku bagi seorang pria. Tapi mau bagaimana lagi, itulah diri saya yang sebenarnya. Tak heran jika saat ini Dewi menganggap saya sangat kaku, pemalu, serius, formal bahkan kadang-kadang aneh.

 

Waktu berjalan terus hingga minggu berganti Bulan. Memasuki bulan September, rasa penasaran saya terhadap Dewi semakin memuncak. Nampaknya sejak saat itu mulai timbul butiran-butiran cinta. Entah angin apa yang menembus dadaku, hingga setiap melihat Dewi, nadi berdenyut kencang hingga jantung berdetak tak karuan. Sepanjang saya berjumpa dengan kaum hawa, saya belum pernah merasakan getaran sebagaimana saat berjumpa Dewi. Sangat sulit untuk menjelaskan perkara yang satu ini, karena ini memang perkara hati yang memang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sebagaimana kata pepatah “ketika cinta telah berbicara, maka mulut akan berhenti berkata-kata sementara hati akan terus merasa”. Ya memang sejak saat itu saya terus merasa, merasa bahwa getaran jiwa saya terhadap Dewi sebagai sinyal Jodoh.

 

Meski Saya dan Dewi sering berjumpa ketika hari-hari kerja, tetapi tak ada obrolan khusus diantara kami. paling hanya sekedar melempar senyuman tipis-tipis sembari mengucap salam. Itupun kami sering menundukkan pandangan satu sama lain, karena sama-sama pemalu. Terlebih lagi saya dan Dewi sering menghabiskan waktu di tempat yang berbeda. Dewi menghabiskan waktunya di Laboratorium IPA, sementara saya lebih banyak menghabiskan waktu di Labkom 1, sehingga tidak memungkinkan kami untuk banyak berkomunikasi. Hanya sekali saja terjadi obrolan agak panjang diantara kami. kala itu, kebetulan saya dan Dewi datang ke kantor lebih pagi sehingga terjadilah interaksi yang dimulai oleh Dewi.

 

 “Mr berasal dari Sulawesi y?” tanya Dewi kepadaku.

“Oh iya Miss, benar” jawabku dengan hati yang deg-degan.

“Sulawesinya dimana Mr?” Dewi kembali melontarkan pertanyaan.

“Buton Tengah (Muna) Sulawesi Tenggara” jawabku.

 “Trus kalau Miss Dewi di Sulawesi bagian mana?” ujarku dengan penuh rasa penasaran.

“Saya juga dari Sulawesi Tenggara Mr. Ibu saya dari Walingkabola (Muna) dan Ayah saya dari Kendari, Cuma saya lahir dan besar di Kota Kinabalu (Malaysia),” Jawab Dewi.

“Oh ya? Wah satu daratan berati kita Miss. Dekat itu ama kampung saya Miss. Biasanya kalau abis lebaran kami pikniknya di Kampung Miss Dewi (Walingkabola) karena disana bagus tempat wisatanya” jawabku dengan penuh semangat dan antusias.

“Tapi saya belum pernah kesana Mr. Paling kalau pulang, pulangnya di kampung Ayah di Kendari, itupun baru sekali waktu saya masih sekolah disini” Jawab Dewi.

“berati kalau nanti ada rencana balik ke Sulawesi, kita bisa bareng Miss. Kebetulan disini (Jabodetabek) kami punya teman-teman dan komunitas Mahasiswa yang berasal dari Buton-Muna. Jumlahnya sangat banyak. Dan biasanya kalau mudik, suka rame-rame.” Ujarku dengan nada antusias dan penuh harap.

“Iya Mr” jawab Dewi dengan singkat, sembari tersenyum.

 

Obrolan kami terus dilanjutkan. Tetapi tak berselang lama, beberapa guru pun mulai berdatangan ke kantor, sehingga perbincangan kami Langsung berakhir. Padahal waktu itu masih banyak yang ingin saya tanyakan dan nyatakan kepada Dewi. Tetapi karena situasi dan kondisi sudah tidak memungkinkan lagi, maka saya hanya bisa berharap jika suatu saat nanti akan ada moment kami bisa berbincang-bincang lebih lama dari hari itu.

 

Tapi syukurlah, meski perbincangan kami pagi itu tak terlalu lama, tetapi bagi saya itu sangat bermaknah. 4 (empat) point besar yang saya peroleh dari obrolan saya dengan Dewi pagi itu:

1.       Saya mendapat respon positif dari Dewi.

2.       Sedikit rasa penasaran saya terhadap Dewi telah terobati ketika mendapatkan beberapa jawaban.

3.       Saya merasakan kenyamanan saat berbincang-bincang dengan Dewi.

4.       Saya merasa punya peluang besar untuk membuka oblolan lebih panjang dengan Dewi.

 

Semenjak kejadian itu, saya mulai menyimpan No.Kontak Dewi di HP saya, dengan harapan Dewi pun akan melakukan hal yang sama. Tetapi hingga beberapa hari, nampaknya belum ada tanda-tanda kalau Dewi telah melakukan hal yang sama. Hal ini terbukti setiap kali saya update status di WA, tak nampak sekalipun No. kontak atas nama Dewi yang melihat status WA saya. Tapi mau diapa, saya juga tidak punya keberanian dan gengsi untuk meminta Dewi menyimpan No.Hp saya. Hingga tibalah masanya ketika Dewi menghubungi saya untuk yang pertama kalinya, tepatnya diakhir bulan September. Pucuk dicinta ulang pun tiba,  akhirnya yang diharapkan datang menyapa. Walau yang ditanyakan waktu itu hanyalah buku Geografi Miss Ineu, tetapi saya sangat senang karena ini adalah peluang saya untuk membuka komunikasi lebih jauh dengan Dewi.

 

Sejak chatt kami yang pertama hari itu, ternyata Dewi mulai menyimpan No.Kontak saya. Dalam beberapa kesempatan, ketika Dewi sedang update status WA, saya memberanikan diri untuk mengomentari, dan alhamdulillah mendapatkan respon. Meski mendapat balasan singkat, tetapi saya melihat itu sebagai sinyal lampu hijau yang memungkinkan saya untuk terus bergerak maju, minimal sebagai teman dekat dahulu.

 

Langkah saya untuk mendekati Dewi sedikit terhenti ketika saya menyaksikan Dewi yang sedang didekati oleh salah satu guru yang merupakan teman saya sendiri. Saya berpikir bahwa Dewi juga menaruh hati pada teman saya tersebut. Meski saya sedikit cemburu, tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena saya dan Dewi juga tak punya hubungan apa-apa. Sebagai laki-laki biasa, saya juga sadar diri dan merasa ragu jikalau Dewi akan benar-benar menaruh hati terhadap saya.

 

Tapi saya tidak mau berputus asa. Saya sadar bahwa yang menggerakkan hati manusia adalah Allah SWT. Dihadapan Allah tak ada satupun yang mustahil. Jangankan untuk menggerakkan hati manusia, menggerakkan alam semesta pun itu terlalu mudah bagi-Nya. Jadi saya mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Karena waktu itu saya sudah punya niatan untuk menikah, saya berdoa jikalau Dewi memang merupakan tulang rusuk saya yang telah tertulis di Lauh Fahfudz (Kitab Induk), maka saya memohon agar Dewi ini dijagakan untuk saya dan dimudahkan ke jenjang pernikahan. Sebaliknya, kalau bukan Jodoh, maka saya meminta agar saya disadarkan sehingga tidak larut dalam lautan asmara yang tidak bertepi.

 

Segala puji bagi Allah, yang punya kuasa dan kehendak untuk menggerakkan hati manusia, termasuk menggerakkan hati kami agar punya kecenderungan satu sama lain. Allah yang punya kuasa untuk menanamkan dan mencabut cinta dari hati siapa saja yang Ia kehendaki. Dalam lubuk hati kami yang paling dalam telah terbesit sebuah ucapan. Dari Dewi muncul keyakinan bahwa saya-lah yang akan menjadi Imamnya kelak, sementara saya-pun memiliki keyakinan bahwa Dewi-pun akan jadi makmum saya. Bagaikan cintanya Sayyidah Fatimah dan Sayyidina Ali. Meski tak saling berbalas kata, tetapi mereka saling berbalas doa. Mulut mereka diam, tetapi hati mereka saling menatap dan berinteraksi dalam doa. Pada setiap langit yang mereka tatap, selalu ada rindu yang dititip. Allah-lah yang kemudian mempertemukan mereka dalam ikatan cinta paling suci dan mulia, yaitu Pernikahan.

 

Memasuki bulan Oktober 2020 mulai berhembus desas-desus dari para Netizen di lingkungan sekolah kalau Dewi menaruh hati kepada saya. Dari sahabat dan teman seperjuangan saya yang bernama Mr.Egi dan Miss Eri mendatangi saya ke Labkom 1. Saat itu sekitar jam 11 siang, saya baru saja selesai mengajar Online. Sebenarnya waktu itu saya merasa agak lelah, tetapi karena mereka membawa berita gembira, saya mendadak bagkit dan bersemangat layaknya orang yang baru saja minum pil kuat.

 

“Mr saya mau ngomong sesuatu ama kamu” ujar Miss Eri dengan nada serius.

“Emang mau ngomong apa Miss” balas saya dengan santai.

“Kamu udah punya niatan serius buat nikah belum?” ujar Miss Eri disertai tatapan serius.

“Saya udah punya niatan serius, tapi masih kurang siap secara financial” jawabku dengan nada lirih.

“Miss Dewi itu loh Mr, lagi nunggu orang yang mau serius. Kamu jangan dulu mikirin uang, yang penting kamu niat aja dulu. Gimana, kamu siap gak?” Ujar Miss Eri dengan nada yang makin serius.

“Iya Bro, yang penting niat dulu, uang bisa diusahakan”, Ujar Mr.Egi, menambahkan pernyataan Miss Eri.

“Emang Miss Dewi mau ama saya?”, tanyaku dengan serius dan penuh rasa penasaran.

“Dia mau Mr, makanya saya datang kesini ketemu kamu”, Ujar Miss Eri yang kembali ingin meyakinkan saya.

“Kirim salam aja dulu ke Miss Dewi, nanti kita obrolin lagi” Ujarku kepada Miss Eri.

“Jangan lama-lama ya Mr, jangan lama-lama. Miss Dewi lagi nunggu kepastian dari kamu”, Ujar Miss Eri yang kemudian mengakhiri perbincangan kami.

 

Sejak perbincangan saya dengan Miss Eri dan Mr.Egi siang itu, hari-hari saya menjadi lebih indah dan berwarna. saya menjadi lebih bersemangat dalam banyak hal. Meskipun demikian, hati saya masih diliputi keraguan dan pikiran saya masih diselimuti beberapa pertanyaan, seperti : Benarkah Dewi suka sama saya? Kalau iya, kok bisa? Apakah orang tuanya mau menerima saya? Dan masih banyak lagi pertanyaan saya. Pertanyaan ini terus mutar ke dalam kepala saya.

 

Pertanyaan-pertanyaan di atas wajar aja, karena saya memang tipikal orang yang sulit untuk benar-benar percaya hingga saya mendengar dan melihat langsung. Saya percaya terhadap informasi yang disampaikan Miss Eri dan Mr.Egi, tetapi saya butuh untuk mendengarkan dari orangnya langsung. Oleh karenanya, saya makin punya inisiatif untuk menghubungi Dewi dan meminta klarifikasi langsung mengenai informasi ini. Tapi sebelum bertemu Dewi, saya kembali mendengarkan informasi yang sama dari rekan kerja saya yang lain bernama Miss Ninda. Intinya, kata Miss Ninda, Dewi memang benar-benar fix menaruh hati pada saya.

 

Akhirnya, pada Kamis tanggal 22 Oktober 2020 saya memberanikan diri untuk mengajak Dewi berjumpa langsung di Lab.IPA dengan dimediasi oleh Miss Eri. Ajakan saya diterima, dan sekitar jam 11.40 siang kami sepakat bertemu dan berbincang-bincang disana. Langsung saja saya mengucap salam dan memulai obrolan kami:

 

“Miss, tujuan saya mengajak Miss Dewi dan Miss Eri disini adalah untuk mengklarifikasi informasi yang saya dengar dari teman-teman. Tolong jawab dengan jujur Miss, benarkah Miss Dewi suka sama saya?” Tanyaku dengan nada serius disertai hati yang deg-degan.

Hening sejenak, lalu Dewi menjawab singkat “iya Mr” jawab Dewi dengan perasaan malu-malu sembari menundukkan kepala.

 

Mendadak kemerah-merahan wajah saya ketika mendengar kata “Iya” dari Dewi. Jantung saya makin berdetak tak karuan, karena memang baru kali ini mendengar langsung dari mulut seorang wanita kalau ia menyukai saya. Terlebih lagi yang menyampaikan itu adalah orang yang juga saya sukai.

 

Sambil menghela napas dalam-dalam untuk memastikan saya tetap tenang dan tidak pingsan duluan, saya pun kembali melanjutkan pertanyaan “Saya pengen dengar alasannya Miss, kenapa Miss Dewi bisa suka ama saya” tanyaku dengan penuh rasa penasaran.

 

Sembari menundukkan kepala dan penuh malu-malu, Dewi-pun menjawab “Saya gak tahu kenapa Mr, tapi intinya setiap lihat Mr itu saya yakin, kalau Mr akan jadi imam saya kelak. Semua yang saya lihat di Mr itu sesuai dengan doa saya” jawab Dewi.

 

Mendengar jawaban Dewi di atas, detak jantung saya makin tak terkontrol. Saking bapernya serasa pengen pingsan benaran di tempat itu. Untungnya tidak benaran pingsan, kalau benaran pingsan, kasihan juga, siapa yang bakal ngangkat saya?.

 

Belum sempat saya kembali melontarkan pertanyaan, Dewi langsung mengambil inisiatif untuk bertanya kepada saya “kalau Mr sendiri gimana perasaanya ke saya?” ujarnya dengan wajah yang diliputi rasa penasaran.

 “Ya saya suka”. Jawabku.

Dewi kembali melanjutkan pertanyaan “Mr sendiri alasannya apa, bisa suka ke saya?”.

 

Tak menunggu jeda lama, langsung saja pertanyaan itu saya sambar dengan jawaban “Saya suka dan yakin bahwa Miss Dewi itu akan jadi istri saya karena semua ciri yang nampak pada diri Miss Dewi itu sesuai dengan doa yang saya panjatkan kepada Allah, seperti: perilakunya baik, satu suku (Muna-Buton), punya kulit putih, anak yatim, perantau, terlebih lagi Miss Dewi itu Guru Geografi. Itu pelajaran favorit saya semasa SMA dulu” Jawabku dengan penuh semangat.

 

Mendengar jawaban saya di atas, Dewi hanya bisa tersenyum-senyum malu. Kemudian Miss Eri melontarkan pertanyaan “jadi kamu serius gak Mr sama Miss Dewi? Soalnya dia gak mau pacaran, dia itu nunggu laki-laki yang serius” Tegas Miss Eri.

 

“Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Miss Dewi karena sudah membukakan ruang hatinya kepada saya. Jujur saya sangat serius sama Miss Dewi, dan saya menghargai perasaan Miss Dewi. Dilain pihak, saya juga sadar diri belum punya apa-apa. Saya hanyalah laki-laki kampung biasa yang berasal dari keluarga biasa. Jadi silahkan Miss Dewi cari dulu laki-laki yang lebih baik dari saya. Nanti kalau memang kita berjodoh pasti akan bertemu lagi. Jodoh tak akan kemana,” Jawabku dengan perasaan sedih.

 

Mendengar jawaban saya di atas nampaknya raut wajah Dewi langsung berubah, antara bercampur sedih dan kesal. Sementara Miss Eri sangat kesal terhadap saya, karena jawaban saya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Begitu menyakitkan dan mengiris hati. Intinya mereka berdua begitu kecewa dengan pernyataan saya. Obrolan kami pun akhirnya berakhir.

 

Pelajaran yang bisa saya ambil dari sini adalah bahwa, ketika seorang wanita telah jatuh cinta kepada kita (laki-laki) dengan tulus, maka ia sudah tidak perduli lagi tentang bagaimanapun kondisi kita. Tugas kita hanya perlu menjaga perasaan mereka dan membuktikan bahwa mereka tidak salah memilih kita, bukan sebaliknya. Itulah kesalahan saya waktu itu, mencoba menjelaskan sesuatu alasan yang sebenarnya itu tidak terlalu penting dimata seorang wanita.

 

Sejak meninggalkan ruangan Lab.IPA, hati saya benar-benar tidak tenang. Batin saya benar-benar berkecamuk. Makan tak kenyang, tidur pun tak lelap. Ini akibat mengingat kembali ucapan-ucapan saya yang sebenarnya bertentangan dengan isi hati saya. Terlebih lagi setelah itu Dewi benar-benar menghindari saya karena kecewa.

 

Karena benar-benar tidak tenang, akhirnya saya mulai Istigharah dan berkomunikasi dengan keluarga saya mengenai niatan saya. Ketika hati sudah mantap untuk mengajak Dewi menikah, maka pada hari Sabtu, 24 Oktober setelah sholat Ashar saya kembali menghubungi Dewi untuk meminta maaf. Kemudian saya jelaskan kembali perasaan saya kepada Dewi. Pada akhirnya, saya langsung sampaikan tujuan besar saya yaitu mengajak Dewi untuk menikah. Ajakan tersebut diterima, lalu pada hari Senin, tanggal 26 Oktober 2020 saya dipertemukan dengan ibunya melalui Video Call. Dihadapan ibunyalah saya sampaikan niatan serius saya untuk menikahi Dewi. Alhamdulillah diterima, dan ibunya turut mendoakan kami berdua sampai dengan masa sekarang.

 

(Bersambung)....

Nanti kita lanjutkan lagi y.. hehehe...


Minggu, 14 Maret 2021

MOMENT SIDANG SANG DEWI

By : Muliadin Iwan (Mr.Mul)


Hari ini (Sabtu, 13 Maret 2021) menjadi hari yang mengingatkan kembali akan salah satu moment paling berkesan dalam hidupmu, yaitu sidang skripsi. Kala itu, Jumat 13 Maret 2020 bertempat di salah satu Ruangan berukuran sedang di Gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Lampung (Unila) engkau menjalani sidang skripsi.

Sungguh hari itu merupakan hari yang mendebarkan dan juga melegahkan bagimu. mendebarkan karena terbayang akan berjumpa muka, pikiran, dan jiwa dengan beberapa dosen dalam sebuah forum. bagi Sebagian Mahasiswa mungkin itu hal biasa, tapi bagi engkau yang berwatak pemalu tentu itu merupakan hal yang memacu adrenalin. Tapi bagaimanapun semua harus dilalui, karena sidang skripsi merupakan salah satu syarat utama kelulusan. Sebagaimana kata pepatah kuliahan, “Tak sidang, maka tak lulus” Hehe..  ya memang kuncinya semua adalah kesiapan mental untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitian. Bukan hanya kepada Dosen penguji tetapi juga kepada khalayak umum khususnya di lingkungan Civitas Academika UNILA.

Tapi Alhamdulillah engkau mampu menuntaskan semuanya. Ini berkat adanya tekad yang kuat dibalut dengan semangat, kerja keras, doa, ketekunan, ambisi, dan optimisme untuk lulus cepat akhirnya semua targetmu bisa tercapai. Lebih dari 3 tahun Lelahmu menjalani kuliah hingga Menyusun skripsi akhirnya terbayarkan. Meski sadar bahwa masih ada tugas yang belum tuntas, yaitu “REVISI”, tetapi setidaknya sejak keluar dari ruang sidang seolah separuh beban hidup yang selama ini kau pikul semasa menjadi mahasiswa ikut keluar meninggalkan jiwa-ragamu.

Semakin legah dan terpancar kebahagiaan ketika keluar ruangan sidang engkau disambut bah putri Indonesia oleh kawan-kawanmu. Beragam persembahan kado berbalut ucapan selamat senantiasa mengalir deras kepadamu sebagai bentuk kepedulian, perhatian, dan support mereka atas segala pencapaianmu. Terpancar dari wajahmu senyuman yang menggambarkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang terlimpah-curahkan padamu saat itu.

Sungguh engkau adalah salah satu Mahasiswa yang beruntung karena mendapat kesempatan untuk bisa merasakan euphoria dan selebrasi Bersama kawan-kawan usai sidang skripsi. Karena berselang 3 hari setelah hari itu, tepatnya pada Senin, 16 Maret 2020 kampus langsung ditutup sebagai dampak dari penyebaran Virus Corona (COVID-19). Artinya, setelah kebijakan penutupan kampus pada waktu itu, maka semua proses persidangan, perkuliahan, dan wisuda harus dilakukan secara Online. Termasuk engkau sendiri yang kemudian menjadi salah satu mahasiswa yang menjalani wisuda secara online pada bulan Juli 2020 yang kemudian ikut mendapat julukan sebagai “Lulusan Corona”. Hehe.. (canda)..

Sebenarnya saat itu ada ambisi darimu untuk lulus lebih cepat, yaitu sebelum bulan Juli. Tapi mau diapa, engkau hanya bisa berpasrah kepada Tuhan atas semuanya. Engkau menyadari bahwa kelulusanmmu yang melampaui targetmu sebagai bagian dari rencana besar dari Yang Maha Kuasa. Engkau menyadari bahwa sebagai manusia kita hanya bisa berencara, selebihnya Yang Maha Kuasa-lah yang menentukan. Pada akhirnya kita semua tersadar bahwa rencana Yang Maha Kuasa-lah memang rencana terbaik. Wallahu a’lamu bisshawaab.

Untuk : Dewi Susilawati, S.Pd

(Bersambung)

(Di tulis di Lt.3 Gedung SMP PIIS).

 

Minggu, 07 Maret 2021

PENDAMPING MASA DEPAN

    


      





By : Muliadin Iwan (Mr.Mul)

Kau akan menjadi pendamping di setiap cerita
Menjadi kesan pada jiwa
Bermunajat pada cinta
Menjadi muara kasih akhir dari segala

Dalam lembaran suci altar kehidupan
Padamu kugantungkan harapan
Bersama merenung doa penuh kesaksian
Memberi ruang untuk segala kehidupan
Menjadi kekasih di masa depan
 
Padamu cinta ini ku titipkan
Sebagai mahkota dalam kedamaian
Ragaku siap tuk dipersembahkan
Demi menjagamu duhai idaman

Semoga tuhan memberi sedikit waktu
Untuk kita saling bercumbu
Sebelum kembali kepadanya dengan penuh rindu
Mencintaimu terlebih dahulu
Sampai ajal menjemput nyawaku

 

GEJOLAK BATIN

By : Muliadin Iwan (Mr.Mul)

 

Krisis keimanan

Hadirkan ketidaknyamanan

Amin yang dulu dipanjatkan dengan iman

Tak mampu lagi hadirkan rasa aman

 

Kepala yang makin membatu

Hati yang kian membuta

Batin terus bergolak, memberontak

Dalam Jiwa yang resah-gelisah

Bersemayam dalam Raga yang lesuh

 

Rasa damai telah berubah

Berganti berganti menjadi resah


SMA Permata Insani

(07/03/2020)

Rabu, 03 Februari 2021

KEKUATAN DAN DAMPAK SEBUAH TULISAN (PERSPEKTIF HISTORIS)


Oleh : Muliadin Iwan 

“Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tetapi satu tulisan (buku) mampu menembus ratusan bahkan jutaan jiwa manusia”.

Ungkapan jitu di atas pernah digaungkan oleh seorang Ulama Islam asal Mesir bernama Sayyid Qutb (1906-1966). Dari ungkapan di atas kita bisa melihat betapa besarnya pengaruh sebuah tulisan. Melalui kekuatan sebuah tulisan, kita bisa mempengaruhi manusia secara turun-temurun. Sebagai contoh Sayyid Qutb, meskipun ia sendiri telah wafat puluhan tahun sailam, tetapi hingga kini ia tetap mampu membius pulahan bahkan ratusan juta umat Islam berkat kekuatan tulisannya. Salah satu karyanya bernama kitab Fi Zilal Al-Qur’an hingga kini masih disanjung-sanjung dan menjadi salah satu kitab tafsir rujukan Umat Islam di seluruh dunia, khususnya yang bermadzhab Sunni.

Kalau kita lihat sejarah memang banyak sekali peristiwa-peristiwa besar dunia yang terjadi berkat kekuatan sebuah tulisan. Sebagai contoh Revolusi Amerika (1765-1783) bergulir karena pengaruh dari gagasan provokatif Thomas Paine yang tertuang dalam bukunya berjudul Common Sense (Akal Sehat). Revolusi Protestan (1517) bermula dari gagasan “99 dalil” Martin Luther yang tertuang dalam tulisannnya berbahasa Jerman dengan judul Disputatio pro declaratione virtutis indulgentiarum (Perdebatan tentang Kuasa Indulgensi)Reformasi konstitusional di dunia yang berisi mengenai gagasan pemisahan kekuasaan yang dikenal dengan Trias Politica (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) bermula dari tulisan 2 (dua) orang filosof Barat, yaitu John Locke (Inggris) melalui tulisannya berjudul Two Treatises of Government (dua risalah pemerintahan) dan Montesquieu (Prancis) dengan tulisannya berjudul "De L'Esprit des Lois" (Jiwa Hukum/Jiwa Undang-Undang) 

Dalam bidang pemerintahan, kita mengenal sistem pemerintahan republik yang kini dianut hampir seluruh Negara di dunia. Ini merupakan buah dari gagasan Filosof Yunani Kuno bernama Socrates yang kemudian dipopulerkan oleh muridnya bernama Plato melalui tulisannya yang berjudul Republic. Pun pemerintahan demokratis yang sekarang banyak dianut oleh Negara-negara di dunia termasuk Indonesia merupakan buah dari pemikiran murid plato bernama Aristoteles yang tertuang dalam karyanya yang berjudul Politeia. Selain sistem pemerintahan demokratis, kita juga mengenal sistem pemerintahan yang berhaluan ideology sosialisme-komunisme. sistem pemerintahan ini merupakan anti-tesis dari pemerintahan demokrasi. Jika dalam sistem pemerintahan demokrasi kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat (liberal), maka dalam system pemerintahan yang berhaluan sosialisme-komunisme, seluruh elemen kekuasaan berada di bawah control penguasa (otoriter).

Terlepas dari itu semua, perlu diketahui bahwa ideologi sosialisme-komunisme merupakan adopsi dari tulisan seorang Filosof Jerman bernama Karl Max melalui beberapa bukunya berbahasa Jerman, yang 2 (dua) diantaranya bernama Manifest der Kommunistischen Partei (Manifesto partai komunis), dan Das Capital (modal). Gagasan Karl Max ini kemudian diadopsi dan diterapkan oleh beberapa Negara di dunia, mulai dari Uni Sovyet (Sekarang Rusia), Republik Rakyat China (RRC), Korea Utara, Vietnam, Laos, Kuba bahkan sampai ke Indonesia meskipun pada akhirnya berhasil ditumpas.

Kita lihat contoh kasus di Indonesia. Tanpa peninggalan tertulis 7 (tujuh) Prasasti Yupa dari kerajaan Kutai abad ke-5 M silam, kita tak akan pernah tahu kapan Indonesia memasuki zaman aksara (tulisan). Tanpa tulisan Mpu Prapanca bernama kitab Kakawin Negarakertagama (1365) Kita tak akan pernah tahu seberapa luas kekuasaan Majapahit. Tanpa kitab Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular, Indonesia tak akan pernah mengenal falsafah kenegaraan “Bhineka Tunggal Ika”. Tanpa catatan-catatan Marcopolo, Ibnu Battutah dan pengembara-pengembara asing lainnya kita akan sulit mengambil kesimpulan mengenai kapan Islam masuk di Nusantara. Tanpa tulisan monumental pengembara Portugis bernama Tome Pires berjudul Suma Oriental, bangsa-bangsa Eropa selain Portugis akan kesulitan untuk menemukan jalan menuju Nusantara. Pada awal abad ke-20 M, tanpa tulisan Multatuli (Douwes Dekker) yang berjudul Max Havelaar, mungkin Belanda tak akan pernah mengeluarkan kebijakan politik etis (balas budi) terhadap rakyat Hindia-Belanda (Indonesia).

Dari beberapa contoh di atas kita melihat bagaimana kekuatan sebuah tulisan yang pengaruhnya sangat besar hingga kini. Kalau kita kembali ke sejarah kita akan melihat bahwa kebanyakan pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia seperti Soekarno, Moh.Hatta, KH. Agus Salim, H.O.S. Tjokroaminoto, dan lain sebagainya menjadikan tulisan sebagai salah satu senjata dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Jika rakyat menjadikan bambu runcing sebagai senjata, maka kebanyakan kelompok pejuang terpelajar menjadikan pena dan kertas sebagai senjata jitu dalam menentang kolonialisme. Di atas podium suara mereka menggelegar bagaikan suara petir yang menyambar-nyambar dan menggetarkan, dan ketika di belakang podium, tulisan-tulisan mereka menikam hingga ke jantung pemerintah kolonial.

Tidak hanya sampai disitu, melalui kekuatan sebuah tulisan pulalah seseorang akan selalu dikenang sepanjang masa. seperti yang pernah digaungkan oleh pepatah latin Kuno yang berbunyi “Verba Volent Scripta Manen” yang artinya “apa yang dikatakan akan lenyap bersama derai angin, tapi apa yang tertulis akan abadi”. Hal yang sama kemudian digaungkan juga oleh Satrawan Legendaris Indonesia Pramoedya Ananta Toer yang berbunyi “menulis adalah bekerja untuk keabadian. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. Melalui ungkapan-ungkapan tersebut kita melihat begitu kuatnya daya magis dari aktifitas menulis sehingga menjadikan penulisnya kekal (bukan fisik, tetapi gagasan). Tanpa adanya karya (tulisan) maka nama maupun jasa-jasa kita akan mudah lenyap dan dilupakan oleh sejarah. Hanya dengan menulislah kita bisa menggoreskan nama kita dengan tinta emas sejarah yang memungkinkan perjuangan, kisah, pengalaman hidup, dan pesan-pesan kita akan selalu diingat, dikenang, dan menginspirasi banyak orang sepanjang masa.

Bagi umat Islam khususnya yang bermadzhab Sunni tentu akrab dengan 4 imam besar madzhab fiqih yaitu Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali. Bagi mahasiswa Filsafat dan politik pasti sudah akrab dengan nama-nama besar yang saya sebutkan di atas seperti Socrates, Plato, Aristoteles, John Locke, Montesquieu, Karl Max, dan lain-lain. Pun dengan pencinta sastra pasti sudah akrab dengan dengan nama-nama besar seperti William Shakespeare, Victor Hugo, Alexander Dumas, Pramoedya Ananta Toer, dan lain sebagainya.  Pertanyaannya, apa yang membuat nama-nama mereka masih diingat dan pemikiran-pemikiran mereka masih hangat dibicarakan hingga kini? Maka jawabannya tentu saja karena kehebatan atau kekuatan tulisan mereka. Meski badan bahkan tulang-belulang mereka telah hancur lebur menyatu dengan tanah sejak puluhan, ratusan hingga ribuan tahun yang lalu, tetapi karena tulisanlah seolah mereka masih dan akan terus hidup sepanjang masa. karya-karya mereka bagaikan mata air yang terus mengalir hingga ke berbagai penjuru dunia. Tak terhitung sudah berapa kali tulisan mereka yang telah dicetak sejak diterbitkan pertama kali. Yang jelas tak ada manusia yang mampu menghitung jumlahnya.

Bayangkan kalau seandainya mereka tidak menulis, mungkin nama mereka tak akan seharum dan semasyhur sekarang ini. Coba kembali menengok sejarah, pada zaman dulu banyak pakar-pakar keilmuan di berbagai kawasan di dunia. Hanya saja, karena mereka tidak punya tradisi menuliskan gagasan-gagasan atau temuan-temuan mereka, sehingga nama-nama mereka tidak sampai kepada kita. Hingga akhirnya yang tersisa dan dikenang hingga kini hanyalah orang-orang yang punya karya tulis.

Menyadari pentingnya menulis inilah maka banyak cendekiawan-cendekiawan khususnya yang muncul belakangan meluangkan waktu mereka sebanyak-banyakanya untuk tetap produktif dalam menghasilkan karya yang kelak akan mereka wariskan kepada generasi setelahnya. Mereka menulis sampai tak mengenal waktu dan kondisi. Sebagai contoh, Ibnu Taymiyyah dan Sayyid Qutb ketika berada di penjara mereka tetap menulis. Di penjaralah Ibnu Taymiyyah menyelesaikan salah satu karya monumentalnya bernama kitab Ar-Raddu ‘alā Al-Ikhnāi yang berisi bantahan terhadap pendapat ulama dari mazhab Hanafi di penjara. Adapun Sayyid Qutb berhasil merampungkan kitab tafsir kontemplatif bertajuk Fī Dzilālil Qur’an yang (Dalam Naungan Al Qur’an) juga di penjara.

Di Indonesia ada Pramoedya Ananta Toer yang ketika mendekam di penjara (1965-1979) ia tetap menulis. Bahkan salah satu karyanya yang bernama Tetralogi Buru berhasil diselesaikan di penjara. Contoh lain adalah KH. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang akrab disapa dengan Buya Hamka yang ketika mendekam dipenjara (1964-1966), ia tetap menulis. Bahkan di penjaralah ia berhasil menyelesaikan kitab tafsir al-Qur’an (30 Juz) yang berjudul Tafsir al-Azhar yang kini dianggap sebagai kitab tafsir terbaik sepanjang sejarah Indonesia bahkan hingga ke Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Tak hanya soal pengaruh dan nama. Melalui tulisan pulalah kita bisa mengukur sejauh mana kekuatan, kedalaman, dan ketajaman pemikiran seseorang atau minimal kita sendiri. Karena apa yang terulis di atas kertas akan menunjukan apa yang ada di dalam kepala. Semakin berisi kepala seseorang, maka akan semakin berbobot pulah tulisan yang ia hasilkan. Meskipun demikian, seberapapun berbobot atau berkualitasnya suatu gagasan/pemikiran jika hanya disampaikan secara lisan akan mudah lenyap dan dilupakan dalam sekejap. Berbeda dengan gagasan atau pemikiran yang disampaikan secara tertulis, yang mana akan senantiasa diingat, hidup, dan dikenang sepanjang masa bersama penulisnya.

Demikianlah, beranjak dari beberapa contoh di atas, kita bisa melihat kekuatan sebuah karya (tulisan). Dengan tulisan, seseorang bisa menyebarkan pengaruh, ideologi, bahkan propaganda. Dengan tulisan pulah seolah seseorang tetap hidup bersama karyanya, dan tetap berkontribusi bagi umat manusia sepanjang masa. Namun, bagi kita sebagai penulis pemula yang ingin tulisannya dikenal seperti tokoh-tokoh di atas, maka langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memperbanyak membaca baik teks maupun konteks. Karena penulis-penulis hebat berasal dari pembaca-pembaca hebat. Karena menulis itu hanyalah sebuah seni untuk menyampaikan ide/gagasan. Lalu, kalau kita tidak suka bahkan tidak pernah membaca, gagasan apa yang mau kita tulis?

Rabu, 13 Januari 2021

DEDEW, CAHAYA YANG DINANTI

 
 



Waktu bergulir begitu cepatnya. Tak terasa, detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga bulan berganti tahun. Tahun demi tahun terus bergulir hingga tak terasa kini engkau telah menginjak usia 27 tahun.
 

Kamis, 14 Januari 2021 merupakan hari yang begitu bermakna bagimu dan keluargamu. Hari yang mengingatkan akan kenangan indah 27 tahun silam. Kala itu engkau terlahir di dunia dari rahim seorang wanita terbaik nan Tangguh bernama “IBU” ditemani seorang Superhero kebanggan keluarga bernama “AYAH”.

 

Hadirmu disampbut gembira laksana sang pagi yang riang-gembira menyambut Mentari. Engkau telah mengubah rasa sakit-beratnya mengandung dan melahirkan oleh seorang Ibu, juga lelahnya seorang ayah dalam banting tulang mencari nafkah menjadi karunia yang luarbiasa dari Yang Kuasa. Hingga yang terpancar dari wajah mereka adalah keceriaan. Yang terlintas di hati mereka adalah kebahagiaan. Dalam sembah sujud mereka, senantiasa  terpanjat doa penuh syukur kepada Yang Maha Kuasa. Sungguh engkau adalah energi yang mampu mengubah pesimisme menjadi optimisme.

 

Memang dalam ulang tahunmu saat ini tak lagi dihadiri sosok orang-orang tercinta dan tersayang. Ibu dan kakak-kakakmu yang kini di Malaysia. Terlebih sosok ayahmu yang telah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Tapi Jangan bersedih. Meski raga mereka tak lagi disini dan disisi, tapi yakin dan percayalah bahwa saat ini jiwa mereka sedang memandangmu dengan penuh rasa bangga sembari tersenyum memandang anak gadisnya yang kini telah beranjak dewasa, tumbuh dan berproses menjadi wanita mandiri, sholehah, dan Tangguh tak terkalahkan.

 

Dedew, di usiamu yang kini menginjak 27 tahun, Semoga engkau semakin menjadi khusuk, tawadhu, dan Istiqomah dalam cinta dan ketaatan kepada Yang Kuasa. Semoga makin banyak hikmah yang dapat diambil, semakin banyak keberkahan diraih, dan semakin banyak pulah manfaat yang dapat ditebar kepada sesama, khususnya kepada keluarga tercinta.

 

Terakhir, Semoga cita-citamu tahun ini untuk menikah dengan kekasih yang engkau puja dalam doa segera tercapai. Amiin ya Rabbal Alamiin.,

 

Barakallah fiy Umrik Dewi Susilawati (Ke-27), Cahaya Yang Dinantikan.

By : Muliadin Iwan 

Kosanku, (Rabu, 13 Januari 2021)

 

 

 

 



Jumat, 24 Januari 2020

MENGULAS EKSISTENSI CANDI BOROBUDUR DAN PRAMBANAN DARI MASA KE MASA




By : Muliadin (Mr.Mul)

Borobudur dan Prambanan, 2 candi terbesar yang kini telah menjadi bagian dari Icon pariwisata kebanggan Indonesia. Zaman dahulu kala, ketika kerajaan mataram Kono sedang jaya-jayanya, 2 candi ini menjadi mahakarya kebanggaan yang menjadi bukti kejayaan, symbol toleransi serta persaingan diantara 2 pemeluk agama (Hindu – Buddha), 2 dinasti (Syailendra – Sanjaya) yang sejatinya berasal dari 1 induk kerajaan yang sama, yaitu Kerajaan Mataram Kuno.

Borobudur yang merupakan candi Budhha dibangun lebih awal dari Prambanan. Borobudur dibangun pada masa Raja Samaratungga dari Dinasty Syailendra (Buddha) sekitar tahun 800-an (Abad 9 M). Candi yang dirancang oleh Gunadharma (Arsitek Asal India) ini memadukan antara kebudayaan local masa Praaksara, yaitu Punden Berundak (Bangunan bertingkat/bersusun untuk tempat pemujaan roh nenek moyang) dengan kebudayaan dari India (berupa ukiran-ukiran/relief-relief, patung, dll). 

Hasil akulturasi (perpaduan) dua kebudayaan ini telah menghasilkan candi Buddha yang megah, unik, dan indah melampaui candi-candi yang ada di India, tempat agama Buddha berasal.

Tak berselang lama setelah pembangunan Borobudur, Dinasty Sanjaya (Hindu) merespon dengan melakukan pembangunan candi ibadah agama Hindu yang sekarang kita kenal dengan Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang. 

Menurut prasasti Siwagrha,  Candi ini dibangun sebagai tandingan terhadap Borobudur. Candi Prambanan yang dibangun tahun 850 M pada masa Raja Rakai Pikatan merupakan persembahan untuk Trimurti (Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa). Candi Prambanan kini telah menjadi candi Hindu terbesar di Indonesia sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara.

Sempat Terlupakan

Hanya kurang dari 100 tahun setelah pembangunan kedua candi di atas, ibukota kerajaan dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok sekitar tahun 930-an, yang kemudian mendirikan Dinasti Isyana menggantikan 2 dinasti sebelumnya

Menurut Sejarawan Van Bammelen, pemindahan ibukota atau pusat kekuasaan kerajaan ini ke Jawa Timur sebagai akibat letusan hebat Gunung Merapi, gempa bumi, bahkan mungkin perang saudara yang kemudian juga diikuti dengan eksodus masyarakat Jogja dan Jawa Tengah secara besar-besaran ke Jawa Timur.

Pendapat lain yang berasal dari seorang Orientalis yaitu Denys Lombard yang didukung sejarawan Indonesia Soekmono (1976), memperkirakan ditinggalkannya Candi Borobudur maupun Prambanan ini seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam pada abad ke-15 M. 

Dengan makin berkembangnya dakwah Islam dan makin banyaknya masyarakat Jawa yang masuk ke dalam Islam, lambat laun ritual penyembahan terhadap dewa-dewa mulai ditinggalkan. 

Selain itu, semakin berkembangnya jaringan pelayaran dan perdagangan di Nusantara membuat banyak masyarakat pedalaman Jawa yang mulai mendekat ke sumber-sumber perekonomian baru, yaitu ke pelabuhan-pelabuhan pesisir pantai.

Semenjak peristiwa tersebut, perlahan-lahan berita mengenai keberadaan candi Borobudur dan Prambanan mulai terlupakan dan hilang dari memori kolektif masyarakat Jawa selama ratusan tahun. Bahkan katika masyarakat Jawa telah kembali dan tinggal menetap di sekitaran candi ini, mereka benar-benar telah lupa mengenai sejarah keberadaan candi-candi ini. Hingga akhirnya munculah mitos dalam masyarakat Jawa yang mengaitkan pembangunan candi ini dengan Legenda Rorojongrang (Baca: Legenda Rorojongrang).

Setelah terabaikan selama sekitar 8 Abad, keberadaan kedua candi ini mulai dipopulerkan kembali oleh bangsa Eropa. Candi Prambanan secara tidak sengaja ditemukan oleh CA. Lons seorang berkebangsaan Belanda pada tahun 1733 ketika penguasa Belanda membangun markas di Klaten.  

Sementara Candi Borobudur dipopulerkan kembali oleh Thomas Stanford Raffles (Inggris) ketika Inggris menduduki Pulau Jawa (1811-1816). Raffles melalui bukunya yang berjudul “History of Java” menggambarkan kondisi candi ini yang pada awal ditemukannya sangat menyedihkan. Borobudur pada awalnya berwujud sebagai sebuah gunung kecil atau bukit yang ditutupi oleh semak belukar dan ditutupi oleh tanah dan tumbuhan-tumbuhan keras.

Pemugaran Kembali

Usaha pemugaran-pemugaran kembali candi-candi ini telah dimulai pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Tepatnya di tahun 1900 M pemerintah Hindia-Belanda mulai membersihkan semak belukar dan tanah yang mengurug Candi Borobudur.

Kemudian pada tahun 1907 dilakukan pemugaran terhadap Candi Borobudur dan Prambanan yang dipimpin oleh Theodore Van Erp, seorang perwira Zeni Angkatan Darat Kerajaan Belanda dibantu J.L.E. Brandes (Filolog,Sejarawan), dan Van de Kamer (Insinyur). 

Perbaikan ini berlangsung antara 1907 sampai 1911. beberapa buah gapura berhasil dipasang, sementara dinding lorong pertama dan kedua tetap dibiarkan miring, serta pagar langkannya masih banyak yang menganga. Pada era ini Candi Borobudur maupun Prambanan pun belum bisa diperkenalkan kepada publik secara luas dengan alasan keamanan bangunan.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia mulai memusatkan perhatian pada candi kedua candi ini. Pada tahun 1953 candi utama yaitu candi Siwa berhasil dirampungkan dan diresmikan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Kemudian pada akhir 1960-an, Pemerintah RI telah mengajukan permintaan kepada masyarakat internasional untuk pemugaran besar-besaran demi melindungi kedua monument ini. 
Pada 1973, rencana induk untuk memulihkan Borobudur dibuat. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk perbaikan menyeluruh monumen ini dalam suatu proyek besar antara tahun 1975 dan 1982. Setelah proses renovasi rampung, pada tahun 1991 Candi Borobudur dan Prambanan dimasukkan ke dalam daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, bahkan Candi Borobudur dimasukkan sebagai salah satu situs keajaiban dunia.
Hingga kini, keberadaan kedua candi ini selalu menjadi pusat perhatian yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun Mancanegara. 
Sumber Bacaan : History of Java (T.S.Raffles), Nusa Jawa: Silang Budaya (Denys Lombard), Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia (Prof.Soekmono), Internet (Wikipedia, blog), document pribadi.


SINGKAT TAPI BERMAKNAH

  By : Muliadin Iwan (Mr.Mul)     “kita berjodoh Bukan karena lamanya bertemu, tetapi karena berjodolah maka kita dipertemuan.”   Na...